Selasa, 24 Mei 2011

Antara Seremban dan KL (Juni 2010)

Sekitar pukul 06:30 waktu Malaysia Barat, aku terbangun dari tempat tidurku di kereta api senandung malam. Jadwalnya kereta api sudah masuk ke daerah Petaling Jaya atau bahkan Kuala Lumpur. Panggilan biologis tidak bisa dihindari dan aku pun bergegas ke arah kamar kecil. Sebelum sampai di kamar kecil aku sempatkan melihat keadaan Ibuku. Kebetulan kami tidak berdekatan tempat tidurnya, tapi masih dalam satu gerbong yang sama. Beliau juga terjaga dan hendak melaksanakan panggilan biologis di pagi hari.

Setelah kami membuang air kecil, kami coba sedikit duduk di dekat kamar kecil kereta api untuk sedikit melancarkan peredaran darah. Satu kursi diduduki oleh seorang pria paruh baya sambil menghisap rokoknya. "Ape pasal pergi kak bandar?" tanya pria berambut keriting itu. Aku beranikan diri untuk menjawab "melancong saja Pak". Aku pun balik bertanya "Apa pasal bapak pergi kak bandar". Pria yang mengenakan baju kemeja putih garis-garis abu-abu itu menjawab "ade kunduri".

Kami tidak tahu darimana beliau langsung tahu kalau kami berasal dari Indonesia. Beliau langsung bercerita pengalaman melancongnya ke Indonesia, sambil mempersiapkan rokok lintingnya yang baru. Beliau pernah ke Surabaya pada tahun 2000 untuk menemui saudaranya. Pengalaman pria bermata abu-abu itu sedikit tidak menyenangkan karena dia pernah ditipu argometer taxi di Surabaya. Takut kena argo kuda beliau naik becak yang rasanya tidak mahal. Bukan argo yang dikeluhkannya saat itu, dia mengeluhkan tukang becak yang ke mana-mana membawa senjata tajam. Dia takut kalau dia yang ditusuk dari belakang. Sejak itu beliau tidak pernah ke Indonesia lagi.

Beliau juga sangat mengikuti perkembangan hukum Indonesia. Dengan berpangku kaki pria itu menceritakan kasus yang menimpa Antasari Azhar. Dia berpendapat bahwa Antasari Azhar jadi korban para koruptor yang menyusahkan rakyat. Pembicaraan kami pun disela oleh 2 orang wanita yang baru keluar dari kamar kecil tanpa menutup pintu. "busuk jreng la" katanya, wajah bingungku diluruskan oleh Ibu dengan kalimat "jreng itu jenggol". Maklum kakekku dulu sejak SMP sampai kuliah di Singapore jadi Ibu sedikit banyak tahu cakap melayu.

Pria ini seperti berkomentar tentang apapun, dia lalu mengometari kejelekan orang melayu yang tidak bersih. Orang Singapore menurut dia bersih. Kebersihan suatu negara menurutnya dilihat dari kamar kecilnya. Dalam hatiku, memang kamar kecil di Singapore bersih-bersih tapi aku yakin pria ini tidak pernah makan di daerah Chinatown Singapore :)

Setelah menghabiskan 2 batang rokok pria paruh baya itu mohon pamit ke tempat tidurnya lagi karena menurut beliau, kita sudah sampai di daerah petaling jaya yang tidak jauh lagi dari KL Sentral. Pembicaraan berakhir tanpa kami tahu nama beliau.

Bincang kosong kami itu menunjukan padaku bahwa betapa Indonesia buruk di mata mereka. Dunia pariwisata yang tidak bersahabat dengan pelancong dan dunia hukum yang tidak ada aturan lagi. Tapi itulah Indonesia di matanya.

Semoga Indonesia bisa lebih baik lagi khususnya dunia pariwisata dan hukumnya. Tugas kita semua membangun citra Indonesia yang baik di masa datang agar jika aku bertemu lagi dengan pria melayu paruh baya itu atau siapapun orang luar negeri, aku mendapatkan cerita yang greng bukan "jreng" :)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar