Rabu, 30 November 2011

Apakah enak jadi Bos?

Terkadang menjadi seorang supervisor atau atasan terhadap beberapa staff terlihat nyaman sekali. Tentu penghasilan lebih besar dari staff dan memiliki "kekuatan" bertindak lebih besar dibanding staff. Tapi secara psikologis, jadi seorang "bos" tidak seperti dibayangkan. Menurut Allison Green, ada beberapa hal yang tidak mengenakan sebagai "bos"

  1. Sebagai bos, kita terkadang membuat keputusan yang tidak populer terhadap staff. Misalnya memerintahkan staff untuk mempercepat masa cuti karena hal-hal mendesak.
  2. Sebagai bos, kita harus mengatakan bahwa kinerja staff kita tidak baik bahkan buruk. Untuk melakukan penilaian, kita ingin semua staff kita berkinerja baik, dan tidak semua orang suka dikatakan bahwa kinerjanya jelek
  3. Sebagai bos, kita harus berani memecat staff yang tidak produktif. Perlu persiapan mental yang baik untuk mengatakan bahwa besok kamu tidak perlu kerja lagi karena kamu dipecat
  4. Sebagai bos, kita harus berani mengatakan "tidak". Mengatakan "tidak" untuk staff yang hendak meminta kenaikan gaji atau liburan panjang
  5. Sebagai bos, kita harus dapat menjadi orang yang dipersalahkan pemilik atas kesalahan yang dilakukan oleh staff kita. Staff adalah tanggung jawab kita, kesalahan mereka adalah kelemahan supervisi kita terhadapnya
  6. Sebagai bos, keputusan yang kita buat adalah pertaruhan atas jabatan kita. Memang tidak ada yang sempurna, tentunya setiap keputusan tetap dimungkin memiliki kelemahan. Tugas bos-lah yang meminimalisir kelemahan-kelemahan tersebut
  7. Sebagai bos, kita harus menegakan keputusan pemilik yang mungkin juga tidak kita sukai. Misalnya keputusan tidak memberikan bonus harus disampaikan kepada seluruh bawahan, yang juga termasuk kita juga tidak menerima bonus
  8. Sebagai bos, tindak tanduk kita akan menjadi bahan pembicaraan staff kita. Misalnya kita telah masuk kantor, pasti akan jadi bahan pembicaraan staff kita
  9. Sebagai bos, kita harus siap tidak disukai staff kita yang bukan penjilat. Tidak semua orang akan bermanis muka dan menerima setiap perkataan dan perbuatan kita. Mungkin dalam suasaan hati yang tidak baik, kita bisa memutuskan keputusan tanpa menggunakan logika yang berdampak buruk bagi staff kita yang juga bersuasana hati tidak baik juga
  10. Sebagai bos, kita akan memiliki jarak pertemanan dengan staff kita. Jarak antara bos dan staff pasti ada, sebagai bos yang baik tentunya jarak pertemanan akan semakin sempit, tapi tetap berjarak.

Minggu, 20 November 2011

Palembang (belum) Bisa (Mengurus Parkir)

Hari Sabtu, tanggal 19 November 2011, saya bermaksud menyaksikan laga bola voli di Palembang Sport & Convention Centre (PSCC). Kendaraan pribadi diarahkan untuk diparkirkan di halaman gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumatera Selatan. Banyak kendaraan yang sudah diparkir di sana. Saya pun berjalan kaki menuju tempat pertandingan yang berada di seberang gedung DPRD Sumatera Selatan. Oleh karena tertulis di pintu masuk "tempat sudah penuh" dan orang-orang sudah menyemut di depan pintu masuk PSCC, maka saya putuskan untuk tidak menonton dan kembali.

Sesampai di halaman DPRD saya langsung menghampiri motor saya. Saat saya hendak keluar saya ditagih oleh seorang pemuda menggunakan safari berwarna coklat muda. "Parkir Pak!" pintanya. Saya balas dengan pertanyaan "Berapa?". "Rp. 2.000,-" jawabnya. "Karcisnya mana?" tanya saya lagi. "Ini kan SEA Games" jawabnya. Aneh sekali di halaman gedung DPRD Sumatera Selatan pun berkeliaran juru parkir liar.


Di Negara berdasarkan hukum, Indonesia, selama SEA Games tidak ada hukum


Harian Sumatera Ekspress, hari ini, tanggal 21 November 2011, memberitakan tarif parkir (yang) melambung (pada halaman 19) di kawasan Jakabaring Sport City. Juru parkir liar merajalella karena banyak setoran ke pemilik lahan, koordinator parkir dan oknum polisi. Inasoc pun menyatakan bahwa jika ada pungutan lebih berarti parkir liar. Pantas saja, kendaraan yang terparkir di kawasan Jakabaring Sport City seperti dibiarkan oleh polisi berantakan dan mengakibatkan kemacetan. Dan kalaupun sudah tahu itu liar kenapa tetap menjamur. Mengurus masalah parkir saja belum bisa mau mengurus perhelatan SEA Games 2011. "Kita bisa (malak)"  


Dalam (retorika) http://bg1a.platmerah.net/?nmodul=berita&bhsnyo=id&bid=413 tertulis bahwa mulai 03 Oktober 2011, Palembang menaikan tarif parkir berdasarkan Peraturan Daerah Kota Palembang Nomor 16/2011. Kepala Dinas Perhubungan Kota Palembang, Masripin Thayib, melalui Kepala Bidang Pengawasan dan Pengendalian Operasional, Pathi Riduan mengatakan besarnya kenaikan tarif parkir yaitu untuk kendaraan roda dua yang sebelumnya hanya Rp. 500 menjadi Rp. 1.000. kendaraan roda empat Rp. 1.000 naik menjadi Rp. 2.000. Pathi menambahkan, dalam pelayanannya, juru parkir akan memberikan karcis resmi kepada konsumen. Konsumen dapat melapor bila ada keluhan dengan mencatat nomor lambung jukirnya dan melaporkannya ke pihak Dishub.

Sabtu, 19 November 2011

Baris-Berbaris dengan Celana Renang


Tim polo air putra Singapura merayakan kesuksesannya meraih medali emas SEA Games XVI dengan bergerak jalan di depan hotel tempat menginap.  Sabtu pagi, tanggal 19 November 2011, sekitar pukul 08:45 WIB, mereka berkumpul membentuk barisan di depan Hotel Budi. Uniknya mereka melakukan gerak jalan dengan mengenakan celana renang, jaket latihan mereka, tutup kepala renang dan medali emas yang terkalung. Mereka bergerak jalan layaknya barisan tentara menuju Ramayana Departemen Store.
Setelah melakukan ritual unik ini mereka menghabiskan sarapan mereka juga dengan mengenakan kostum yang sama. Sayangnya tim polo air putri Singapura yang mendapatkan medali emas juga di SEA Games XVI tidak melaksanakan ritual seperti tim polo air putra Singapura. Pasti yang menonton ritualnya lebih banyak dibandingkan tim putranya.
Ada-ada saja cara merayakan kemenangan J